Menjalankan bisnis bukan hanya tentang meningkatkan penjualan, tetapi juga memastikan kondisi keuangan usaha tetap sehat. Pemilik bisnis perlu mengetahui apakah pendapatan yang diperoleh sebanding dengan biaya yang dikeluarkan, apakah keuntungan mengalami peningkatan, dan apakah kewajiban perusahaan dapat dipenuhi tepat waktu.
Salah satu cara untuk mengetahui kondisi tersebut adalah melalui analisis keuangan bulanan. Proses ini membantu pemilik bisnis mengevaluasi kinerja keuangan berdasarkan transaksi dan laporan selama satu bulan.
Dengan melakukan evaluasi secara rutin, pemilik bisnis dapat mengetahui perkembangan usaha, mengidentifikasi masalah lebih awal, serta menyusun strategi yang sesuai dengan kondisi keuangan perusahaan. Lalu, indikator keuangan apa saja yang perlu dipantau setiap bulan? Berikut penjelasannya.
1. Pendapatan atau Penjualan Bulanan
Pendapatan merupakan salah satu indikator utama untuk melihat perkembangan bisnis. Melalui laporan penjualan bulanan, pemilik usaha dapat mengetahui apakah penjualan mengalami peningkatan, penurunan, atau cenderung stabil. Namun, angka penjualan sebaiknya tidak hanya dilihat secara keseluruhan. Pemilik bisnis juga perlu membandingkannya dengan periode sebelumnya dan target yang telah ditentukan.
Sebagai contoh, sebuah usaha menargetkan penjualan sebesar Rp100 juta per bulan. Pada bulan ini, penjualan mencapai Rp85 juta. Artinya, target belum tercapai dan pemilik bisnis perlu mengevaluasi faktor yang memengaruhinya. Beberapa hal yang dapat diperiksa antara lain:
- Perbandingan penjualan dengan bulan sebelumnya.
- Pencapaian target penjualan bulanan.
- Produk atau layanan dengan penjualan tertinggi.
- Perubahan jumlah transaksi pelanggan.
Informasi tersebut dapat membantu pemilik bisnis menentukan strategi pemasaran dan penjualan yang lebih tepat.
2. Laba Kotor dan Margin Laba Kotor
Penjualan yang tinggi belum tentu menghasilkan keuntungan yang besar. Karena itu, pemilik bisnis perlu memantau laba kotor untuk mengetahui hasil penjualan setelah dikurangi harga pokok penjualan (HPP).
Rumus laba kotor:
Laba Kotor = Penjualan Bersih − Harga Pokok Penjualan
Selain nilai laba kotor, pemilik bisnis juga perlu memperhatikan margin laba kotor. Indikator ini menunjukkan persentase penjualan yang tersisa setelah memperhitungkan HPP.
Rumus margin laba kotor:
Margin Laba Kotor = (Laba Kotor ÷ Penjualan Bersih) × 100%
Misalnya, sebuah bisnis memperoleh penjualan bersih sebesar Rp100 juta dengan HPP Rp60 juta. Laba kotornya adalah Rp40 juta, sedangkan margin laba kotornya sebesar 40%.
Jika margin laba kotor menurun dari bulan sebelumnya, pemilik bisnis perlu memeriksa kemungkinan kenaikan harga bahan baku, perubahan harga jual, atau meningkatnya biaya pembelian barang. Dengan memantau indikator ini, perusahaan dapat mengevaluasi strategi harga dan efisiensi biaya produk.
3. Beban Operasional Bulanan
Beban operasional merupakan biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan bisnis sehari-hari, seperti gaji karyawan, biaya sewa, listrik, internet, pemasaran, dan administrasi. Pemilik bisnis perlu memantau beban operasional setiap bulan agar pengeluaran tetap sesuai dengan kebutuhan dan anggaran perusahaan.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan saat melakukan evaluasi antara lain:
- Apakah ada biaya yang meningkat dibandingkan bulan sebelumnya?
- Apakah terdapat pengeluaran yang tidak direncanakan?
- Apakah biaya pemasaran sebanding dengan hasil yang diperoleh?
- Apakah ada pengeluaran yang dapat dikendalikan tanpa mengganggu operasional?
Sebagai contoh, biaya operasional yang biasanya sebesar Rp20 juta per bulan meningkat menjadi Rp28 juta. Kenaikan tersebut perlu ditelusuri untuk mengetahui apakah berasal dari kebutuhan bisnis yang wajar atau pengeluaran yang dapat ditekan. Analisis ini membantu pemilik usaha mengelola biaya dengan lebih terarah.
4. Laba Bersih
Laba bersih menunjukkan hasil akhir keuangan perusahaan setelah pendapatan dikurangi berbagai biaya dan beban yang relevan, termasuk pajak sesuai perlakuan akuntansinya. Indikator ini penting karena membantu pemilik bisnis mengetahui apakah kegiatan usaha benar-benar menghasilkan keuntungan. Rumus sederhananya:
Laba Bersih = Total Pendapatan − Total Beban
Dalam praktiknya, perhitungan laba bersih perlu memperhitungkan komponen pendapatan dan beban sesuai laporan laba rugi perusahaan. Pemilik bisnis sebaiknya membandingkan laba bersih bulan berjalan dengan bulan sebelumnya. Jika penjualan meningkat tetapi laba bersih justru menurun, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa biaya atau beban perusahaan turut meningkat.
Sebaliknya, kenaikan laba bersih yang konsisten dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan usaha, menambah sumber daya, atau mengevaluasi strategi bisnis. Meski demikian, laba bersih perlu dibaca bersama indikator lain karena keuntungan secara akuntansi tidak selalu berarti perusahaan memiliki kas yang cukup pada saat yang sama.
5. Arus Kas dan Ketersediaan Dana
Selain keuntungan, pemilik bisnis juga perlu memperhatikan arus kas. Indikator ini membantu menunjukkan pergerakan uang masuk dan keluar selama periode tertentu. Bisnis yang mencatat laba belum tentu memiliki dana tunai yang cukup untuk membayar kewajiban yang segera jatuh tempo. Hal ini dapat terjadi, misalnya, ketika banyak penjualan dilakukan secara kredit tetapi pembayaran pelanggan belum diterima.
Dalam evaluasi bulanan, perhatikan beberapa hal berikut:
- Saldo kas dan rekening bank.
- Penerimaan uang dari pelanggan.
- Pengeluaran untuk operasional dan pembelian.
- Pembayaran utang yang mendekati jatuh tempo.
- Kebutuhan dana untuk kegiatan bisnis bulan berikutnya.
Pemantauan arus kas membantu pemilik usaha memperkirakan kebutuhan dana dan mengatur waktu pembayaran agar operasional tetap berjalan lancar.
6. Piutang Usaha dan Utang Usaha
Piutang dan utang usaha juga menjadi indikator penting dalam analisis keuangan bulanan, terutama bagi bisnis yang melakukan transaksi kredit. Piutang usaha merupakan tagihan kepada pelanggan yang belum dibayar. Sementara itu, utang usaha adalah kewajiban perusahaan kepada pemasok atas pembelian barang atau jasa secara kredit.
Pemilik bisnis perlu memantau piutang agar dapat mengetahui tagihan yang belum dibayar dan menentukan tindak lanjut penagihan. Jika banyak piutang terlambat dibayar, perusahaan berpotensi mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan operasional.
Di sisi lain, pemantauan utang membantu perusahaan mengetahui kewajiban yang akan jatuh tempo sehingga pembayaran dapat direncanakan dengan baik. Beberapa informasi yang perlu diperiksa setiap bulan meliputi:
- Total piutang pelanggan yang belum dilunasi.
- Daftar piutang yang telah melewati jatuh tempo.
- Total utang kepada pemasok.
- Jadwal pembayaran utang.
- Perubahan saldo piutang dan utang dibandingkan bulan sebelumnya.
Dengan informasi tersebut, pemilik bisnis dapat menjaga hubungan dengan pelanggan dan pemasok sekaligus mengelola kewajiban perusahaan secara lebih teratur.
7. Nilai dan Perputaran Persediaan
Bagi bisnis yang menjual barang, persediaan merupakan bagian penting yang perlu diperhatikan dalam analisis keuangan bulanan. Stok yang terlalu banyak dapat membuat dana tertahan dalam barang yang belum terjual. Sebaliknya, stok yang terlalu sedikit berisiko menyebabkan kehabisan barang saat permintaan meningkat.
Karena itu, pemilik bisnis perlu mengevaluasi nilai persediaan, jumlah stok, dan kecepatan barang terjual. Beberapa hal yang dapat dipantau antara lain:
- Nilai persediaan pada akhir bulan.
- Produk yang paling cepat dan paling lambat terjual.
- Barang yang menumpuk atau jarang bergerak.
- Selisih antara stok fisik dan catatan persediaan.
- Kebutuhan pembelian stok untuk periode berikutnya.
Evaluasi persediaan membantu perusahaan merencanakan pembelian dengan lebih tepat dan mengurangi risiko penumpukan barang.
Bagaimana Cara Melakukan Analisis Keuangan Bulanan dengan Efektif?
Setelah mengetahui indikator yang perlu dipantau, pemilik bisnis perlu memiliki proses evaluasi yang konsisten. Analisis keuangan tidak harus rumit, tetapi perlu dilakukan menggunakan data yang akurat dan metode yang teratur. Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan.
1. Kumpulkan Data Transaksi Selama Satu Bulan
Pastikan transaksi penjualan, pembelian, biaya operasional, pembayaran pelanggan, dan transaksi lainnya telah dicatat dengan benar.
Pencatatan yang tidak lengkap dapat menyebabkan laporan keuangan kurang mencerminkan kondisi bisnis yang sebenarnya.
2. Periksa Laporan Keuangan
Gunakan laporan yang relevan, seperti laporan laba rugi, neraca, laporan arus kas, serta laporan piutang, utang, dan persediaan sesuai kebutuhan bisnis.
Setiap laporan memberikan informasi yang berbeda. Karena itu, sebaiknya jangan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu laporan.
3. Bandingkan dengan Periode Sebelumnya
Bandingkan hasil bulan berjalan dengan bulan sebelumnya atau periode yang sama pada tahun lalu. Perbandingan ini membantu mengidentifikasi perubahan kinerja dan pola yang perlu diperhatikan.
Jika terjadi perubahan signifikan, cari penyebabnya sebelum menentukan tindakan.
4. Tentukan Tindak Lanjut
Hasil analisis sebaiknya menghasilkan langkah konkret. Misalnya, mengevaluasi biaya yang meningkat, memperbaiki proses penagihan piutang, menyesuaikan persediaan, atau meninjau kembali target penjualan. Dengan begitu, analisis keuangan menjadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar kegiatan membaca laporan.
Permudah Analisis Keuangan Bulanan dengan Accurate
Melakukan analisis keuangan bulanan akan lebih mudah ketika data transaksi tersusun rapi dan laporan dapat diakses sesuai kebutuhan. Sebaliknya, jika pencatatan tersebar di berbagai file atau masih dilakukan secara manual, pemilik bisnis mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mengumpulkan dan mencocokkan data.
Software akuntansi seperti Accurate dapat membantu bisnis mengelola pencatatan transaksi serta menyusun laporan keuangan berdasarkan data yang dimasukkan ke dalam sistem. Melalui penggunaan Accurate, bisnis dapat terbantu dalam beberapa hal berikut:
- Pencatatan transaksi lebih terstruktur. Transaksi bisnis dapat dicatat dalam sistem sehingga lebih mudah ditelusuri saat melakukan evaluasi.
- Penyusunan laporan keuangan. Laporan yang tersedia membantu pemilik bisnis meninjau pendapatan, beban, laba, dan posisi keuangan.
- Pemantauan piutang dan utang. Informasi tagihan serta kewajiban membantu perusahaan mengevaluasi transaksi kredit dan jadwal pembayaran.
- Pengelolaan persediaan. Untuk bisnis yang menggunakan fitur persediaan sesuai kebutuhan, informasi stok dapat mendukung evaluasi barang dan pembelian.
- Evaluasi bisnis berdasarkan data. Informasi yang tercatat dapat menjadi dasar untuk membandingkan kinerja antarperiode dan menentukan langkah selanjutnya.
Fitur yang tersedia dapat berbeda sesuai produk Accurate, edisi, dan konfigurasi yang digunakan. Karena itu, pemilik bisnis sebaiknya memilih solusi yang sesuai dengan proses operasional perusahaan. Perlu diingat, software akuntansi membantu proses pencatatan dan penyajian informasi, tetapi hasil analisis tetap bergantung pada kelengkapan data, ketepatan pencatatan, serta kemampuan pengguna dalam menafsirkan laporan.
